SD Xaverius 1 Jambi di Jl.Putri Pinang Masak No.19, Pasar Jambi merupakan sekolah berkualitas di Kota Jambi. Mengedepankan prestasi dan pengembangan karakter dalam pembelajaran. Setiap anak dibimbing untuk bertumbuh sesuai bakat dan kemampuannya.

Senin, 17 Agustus 2015

INDONESIA DI 17 AGUSTUS 2015



INDONESIA DI 17 AGUSTUS 2015
                                                             Oleh: Romualdus Kaju
Seorang nenek berjalan tertatih-tatih menuju prosesi pawai pembangunan 2015. Pawai pembangunan Provinsi Jambi ini setiap tahun diadakan di seputaran Tepian Sungai Batanghari Ancol Jambi. Nenek ini kelihatan memandang barisan warga. Ia mengais-ngais tongkatnya ke depan, memukul kaki-kaki yang menghalanginya melangkah maju.

“Permisi si i ii “ suara gemetar.
“He Nenek…. Ayo… maju sini.” Kata orang-orang yang melihatnya.
“Lain dulu lain sekarang,” katanya dengan suara yang masih gemetaran.
Ia mulai duduk di barisan terdepan, menopangkan tubuh para tongkatnya. Ia pandangi barisan-barisan generasi muda yang lewat di depan para pejabat. Untuk apa ya? Orang-orang ini berjalan, berkeringat-keringat. Mungkin mereka mau mengenang pahlawan-pahlawan besar yang dahulu memanggul senjata, mengelak terjangan peluru penjajah.
Ia memandang ke atas, para pejabat duduk di tenda terhormat sementara rakyatnya berkeringat-keringat berjalan di bawah terik nan membakar. Inikah kemerdekaan? Ada yang tenang ada yang merana, ada yang adem ada yang kepanasan, ada yang kaya ada yang miskin papa.
Inilah warna 17 Agustus 2015, pesawat jatuh di pegungungan Papua, penjual daging sapi dan ayam mogok berjualan, jalan ke kampung berlumlah beraspal. Memang inilah warga kita, warna Indonesia saat ini.
"Dahulu Jepang pernah menggaji ayahku yang bekerja sebagai dengan 2 potong tempe ganti tugasnya mengajar siswa sebulan. Sekarang ada koruptor yang memakan uang pramuka anak-anak sampai miliaran rupiah. Sama kejamnya kan," keluh sang Nenek.
Tetapi bangsa ini selalu bangga, bangsa ini selalu positif, bangsa ini selalu bermimpi jadi terdepan di dunia. Angan-angannya tak pernah pudar. Dalam hatinya sang Nenek berdoa, agar korupsi tidak sampai dilakukan orang-orang yang membangun jembatan Titian Arasy itu, takut terjadi apa-apa dengan ank cucu yang melintas di atasnya.







.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar