INDONESIA DI 17
AGUSTUS 2015
Oleh: Romualdus Kaju
“Permisi si i ii “ suara gemetar.
“He Nenek…. Ayo… maju sini.” Kata
orang-orang yang melihatnya.
“Lain dulu lain sekarang,”
katanya dengan suara yang masih gemetaran.
Ia mulai duduk di barisan
terdepan, menopangkan tubuh para tongkatnya. Ia pandangi barisan-barisan
generasi muda yang lewat di depan para pejabat. Untuk apa ya? Orang-orang ini
berjalan, berkeringat-keringat. Mungkin mereka mau mengenang pahlawan-pahlawan
besar yang dahulu memanggul senjata, mengelak terjangan peluru penjajah.
Ia memandang ke atas, para
pejabat duduk di tenda terhormat sementara rakyatnya berkeringat-keringat
berjalan di bawah terik nan membakar. Inikah kemerdekaan? Ada yang tenang ada
yang merana, ada yang adem ada yang kepanasan, ada yang kaya ada yang miskin
papa.
"Dahulu Jepang pernah menggaji
ayahku yang bekerja sebagai dengan 2 potong tempe ganti tugasnya mengajar siswa
sebulan. Sekarang ada koruptor yang memakan uang pramuka anak-anak sampai
miliaran rupiah. Sama kejamnya kan," keluh sang Nenek.
Tetapi bangsa ini selalu bangga,
bangsa ini selalu positif, bangsa ini selalu bermimpi jadi terdepan di dunia. Angan-angannya
tak pernah pudar. Dalam hatinya sang Nenek berdoa, agar korupsi tidak sampai
dilakukan orang-orang yang membangun jembatan Titian Arasy itu, takut terjadi
apa-apa dengan ank cucu yang melintas di atasnya.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar