FALSAFAH
IDEALISME PLATO UNTUK PERBAIKAN SISTEM
UJIAN NASIONAL
Oleh: Romualdus Kaju
Mendiknas
memutuskan untuk mendengar kata hati guru-guru Indonesia. Rekan-rekan guru SD
yang mengikuti kuliah Magister Pendidikan Dasar di Universitas Jambi, sebagian
besar mengusulkan agar UN tidak lagi diberlakukan sebagai penentu kelulusan
siswa. Mendiknas akhirnya menyatakan bahwa UN selanjutnya hanya akan dijadikan
sarana pemetaaan kualitas pendidikan dan tidak lagi menjadi penentu utama
kelulusan siswa di Indonesia. Itu sebabnya, ketika ujian nasional disebutkan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan hanya sebagai pemetaan dan bukan penentu
kelulusan, sebetulnya merupakan sebuah langkah besar. Kolumnis Indira
Permanasari dalam kompas.com 6 Januari 2015 menyebutkan bahwa sekolah dan guru
yang dipandang sebagai orang-orang yang paling paham perkembangan belajar anak
kembali diberi keleluasaan menentukan kelulusan.
Harapannya,
segala potensi murid dan sekolah yang selama ini ”terbelenggu” oleh tagihan
ujian nasional disehatkan kembali. Tentu saja ada catatan penting bagi sekolah
dan guru, yakni terkait kemampuan mereka mengevaluasi siswa dan paling penting
ialah kejujuran. Mendiknas Anies sempat mengingatkan para guru agar jujur dalam
melaporkan hasil evaluasi anak didiknya.
Hal
inilah yang dikehendaki oleh para guru di Indonesia, sebab kelulusan memang
sebaiknya tidak ditentukan oleh hasil kerja seminggu yang penuh kepalsuan
tetapi oleh proses pembelajaran dari hari ke hari yang terus dipantau oleh pena
penilaian guru.
Keputusan
ini berdiri di atas landasan pedagogis bahwa penentu kesuksesan manusia bukan
hanya aspek kognitif/pengetahuan saja, melainkan juga turut ditentukan oleh
aspek psiko emosional/kematangan pribadi, kematangan sosial/hidup bermasyarakat
dan kematangan spiritual/iman kepada Allah. Aspek kognitif bisa dipantau oleh
ujian tertulis dan tetapi aspek-aspek lainnya hanya bisa diukur melalui
penilaian proses.
Di
sisi lain keputusan yang sangat populis ini sebenarnya meninggalkan tantangan
yang lebih besar lagi karena sungguh mengandalkan perkembangan kualitas
pendidikan Indonesia pada kompetensi dan kesungguhan guru untuk bersikap
profesional. Di sisi positif guru yang berkualitas akan berusaha mengoptimalkan
proses pembelajaran. Guru melihat proses pemebelajaran sebagai kesempatan untuk
mengexplore konteks dan materi
pembelajaran agar pengetahuan siswa menjadi luas dan mendalam, kepribadiannya
bertumbuh semakin matang, sekaligus berkembang juga kualitas iman dan
keyankinan hidup beragamanya. Guru dituntut untuk lebih bertanggungjawab
terhadap out put lulusan yang murni,
terukur, dan dapat dibuktikan kemampuannya di lapangan.
Salah
satu sudut pandang filosofis yang bisa dipakai untuk menyemangati para guru
dalam membenahi sistem Ujian Nasional di Indonesia adalah idealisme Plato.
Memilih idealisme Plato berarti melalangbuana ke negeri kelahiran filsuf ini
yang dikenal juga sebagai masternya filsafat barat kuno, Yunani. Di zaman ini
Yunani dihantam resesi ekonomi berat, hemat penulis penyebabnya karena mereka
melupakan ide-ide dedengkot-dedengkot filsafatnya, Sokrates, Plato,
Aristoteles. Mereka menjadi bangsa yang terlena oleh kejayaan filsafat masa
lalu dan keindahan alamnya, lalu malas berpikir, dan lupa bekerja kerasa untuk
mengatasi dan mengantisipasi beratnya beban ekonomi dunia saat ini.
Ilmu
filsafat Yunani ini telah dicuri oleh pakar-pakar lain dari seantero dunia dan
diterapkanlah pemikiran-pemikiran bernas itu untuk kejayaan bangsanya
masing-masing. Filsafat Yunani telah menjadi terang bagi berkembangnya ilmu
matematika, fisika, kedokteran, sosial, politik, ekonomi, bahkan komputer,
sementara pemiliknya tertiarap mengadu minta bantuan mengatasi resesi ekonomi
parah. Apa salahnya? Mereka menganggap filsafat sebagai masa lalu, tidak
mengembangkannya, tidak memperdalamnya, lalu membiarkan bangsa-bangsa lain
menjadi bijaksana karena pemikiran-pemikiran dasar mereka.
Bangsa
Indonesiapun tak kurang banyak filsuf profesionalnya. Yang terbesar adalah
Ir.Sukarno, ia menjadi filsuf politik aplikatif terbesar dunia karena
pemikirannya menjadi fondasi tegaknya bangsa Indonesia ini.Pancasila menjadi
hak paten pemikiran Sukarno. Filsuf politik ini dibilang terbesar karena sebuah
bangsa telah tumbuh di atas landasan pemikiran yang sama, Ketuhanan, Kemanusiaan,
Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan bahkan untuk saat-saat panjang ke depannya.
Filsuf pendidikan kita yang terbaik masih Ki
Hajar Dewantoro, yang sekarang oleh Mendikbud, Anies Baswedan disarankan agar
buku-bukunya wajib dipahami oleh insan pendidikan karena memang diakui dan
dipakai bahkan oleh negara dengan sistem pendidikan dasar yang sering diakui
terbaik di dunia yaitu Filandia.
MODEL FILSAFAT IDEALISME PLATO
A. PLATO DAN ALEGORI GUA
Plato (428-348 SM) adalah
filsuf Yunani Kuno yang paling terkenal. Plato adalah murid Sokrates, lewat
karya besar seperti Republik dan berbagai dialog gagasannya membentuk
fondasi peradaban Barat. Mulai dari bidang pemerintahan, etika, hingga ilmu
logika, semua tak lepas dari pengaruh pemikirannya.
Layaknya filsuf Yunani
sezamannya, Plato sering menggunakan analogi dan ilustrasi untuk menjelaskan
ide-idenya. Tujuannya tentu supaya orang lebih mudah memahami maksudnya. Lewat
analogi dan ilustrasi inilah orang-orang awam — yang tidak terlatih ilmu
filsafat — dapat membayangkan argumen Plato.
Nah, salah satu ilustrasi
Plato yang paling terkenal disebut sebagai “Perumpamaan Gua” (Allegory
of The Cave). Lewat ilustrasi ini Plato
berusaha memperkenalkan konsep seperti realitas dan transendensi kepada pembaca. Meskipun
demikian Plato tidak menyampaikan ide ini secara langsung — ia menjelaskannya
sebagai cerita dari mulut gurunya, Sokrates, yang sedang mengobrol
bersama Glaucon.
Perumpamaan Gua versi Plato
yang sebenarnya agak panjang; melibatkan dialog yang cukup intens. Oleh karena
itu, untuk memudahkan pembahasan, berikut ini saya tuliskan rangkumannya dalam
Bahasa Indonesia.
Pertama-tama kita bayangkan sekelompok orang
yang ditawan sejak lahir. Orang-orang ini sejak kecil dirantai dalam gua.
Tangan, kepala, dan kaki mereka diikat secara ketat, sedemikian hingga seumur
hidup cuma bisa menatap dinding di depan mereka. Di belakang mereka terdapat
api unggun besar. Apabila ada orang atau binatang lewat, maka bayangannya akan
terpantul ke dinding di depan para tawanan. Setiap kali orang atau binatang itu
bersuara, suaranya akan bergema sampai ke telinga para tawanan.
Karena seumur hidup cuma melihat pantulan di
dinding, para tawanan mengira bayangan dan gema itu sebagai “kenyataan
sebenarnya”. Mereka tidak menyadari bahwa semua itu sekadar pantulan dari benda di belakang mereka.
Poin utama Plato sampai di sini adalah bahwa manusia menyangka kenyataan berdasarkan apa yang mereka persepsi. Dalam
kasus ini, tawanan yang seumur hidup menatap dinding akan terdorong menganggap
bayang-bayang — dan suara gema — sebagai sebentuk realitas.
Melanjutkan ide di atas,
Plato mengetengahkan:
Akan tetapi, bagaimana kalau kita lepaskan satu
orang dari tawanan tersebut? Apabila ia kita seret keluar gua maka ia akan
merasa kesakitan. Badannya yang seumur hidup dirantai tak biasa bergerak.
Matanya akan perih menatap cahaya terang dunia luar. Orang ini akan mengalami
kesakitan yang luar biasa.
Meskipun begitu, setelah beberapa waktu, dia
akan beradaptasi. Matanya menyesuaikan diri; demikian pula dengan badannya. Dia
menyadari bahwa ada kenyataan yang
melampaui bayangan dalam gua.
Dalam sekejap pengetahuannya bertambah — ia
tidak lagi menjadi “orang gua” yang naif.
Ketika melihat kembali ke dalam gua, orang ini
akan menyadari bahwa kenyataan yang dipercaya selama ini salah. Semua yang ia
lihat dan dengar itu bukan kenyataan sebenarnya — melainkan, sekadar refleksi dari kenyataan yang lebih
tinggi.
Bagian terakhir, sebagai
penutup:
Seandainya orang ini — yang sudah pernah bebas —
kembali ke dalam gua menemui teman-temannya. Apa yang akan terjadi?
Ada kemungkinan ia akan dikucilkan karena
pandangannya tentang kenyataan berbeda dengan mereka. Ada kemungkinan bahwa —
apabila hendak membebaskan teman-temannya — ia akan dibenci karena menimbulkan
rasa sakit yang luar biasa. Ada juga kemungkinan bahwa ia akan dipandang
rendah. Karena matanya sudah beradaptasi dengan dunia luar, ia tidak lagi
pandai mengamati bayangan di dinding.
B. Filsafat Idealisme Plato
Alegori gua di atas akan
menjadi ilustrasi menarik bagi filsafat idealisme. Plato menyamakan pandangan
manusia tentang realitas itu sama dengan manusia gua yang menyangka apa yang
dilihatnya dalam gua sebagai kenyataan satu-satunya.
Idealisme merupakan sistem
filsafat yang telah dikembangkan oleh para filsuf di Barat maupun di Timur. Di
Timur, idealisme berasal dari India Kuno, dan di Barat idealisme berasal dari
Plato, yaitu filsuf Yunani yang hidup pada tahun 427-347 sebelum Masehi. Dalam
pengertian filsafati,idealisme adalah
sistem filsafat yang menekankan pentingnya keunggulan pikiran (mind), roh (soul) atau jiwa (spirit)
dari pada hal-hal yang bersifat kebendaan atau material. Pandangan-pandangan
umum yang disepakati oleh para filsuf idealisme, yaitu:
• Jiwa (soul) manusia adalah unsur yang paling
penting dalam hidup.
•
Hakikat akhir alam semesta pada dasarnya adalah
nonmaterial.
Filsafat idealisme secara umum disebut sebagai filsafat
abad 19. namun sebenarnya konsep-konsep idealisme sudah ada sejak abad 4
masehi, yaitu dalam ajaran Plato. Plato memercayai bahwa segala sesuatu yang
dapat diinderai adalah kenampakan semata. Realitas yang sesungguhnya adalah
ide-ide, atau bentuk-bentuk asal dari kenampakan itu. Ide-ide itu merupakan
dunia “universal abadi” yang tidak berubah. Apa yang nampak hanyalah refleksi
atau bayangan dari konsep-konsep yang ada dalam dunia “universal abadi,” maka
selalu berubah. Pandangan ini dimulai dari perenungan akan nilai-nilai dari
kenampakan yang ada di dunia ini. Plato menyimpulkan bahwa ada nilai dibalik
kenampakkan itu, maka tentu yang memberi nilai jauh lebih penting dari pada
kenampakkan itu sendiri. Dan ternyata yang memberi nilai atas kenampakkan itu
adalah sesuatu yang metafisik, yang tidak nampak, tetapi terus eksis, yaitu
ide-ide.
UJIAN NASIONAL IDEAL
Banyak pihak mengkritik pelaksanaan UN selama ini
sebagai sesuatu yang sia-sia, tidak ideal dan hanya sebagai proyek yang
menghabiskan anggaran negara. Dan ketika pemerintah berani merombak dasar
pemikiran dan tujuan dilaksanakannya UN maka bandul problematika kembali
bergesar yaitu dari nilai UN sebagai tolok ukur kelulusan ke hasil UN sebagai
pertunjukkan gengsi sekolah dan gengsi daerah. Mengapa demikian? Banyak pihak
masih terlanjur mementingkan citra atau persepsi publik tentang dirinya
daripada dia apa adanya. Nilai UN yang tinggi akan menunjukkan kesuksesan guru,
kesuksesan sekolah, pengawas dan pejabat pemerintah di bidang pendidikan pada
umumnya.
Di sinilah peran tepat filsafat pendidikan idealisme
dapat diterapkan yaitu:
Pertama, filsafat idealisme khusunya Plato menyatakan jiwa (soul) manusia adalah unsur yang paling penting dalam hidup.
Ketidakberesan pelaksanaan UN disebabkan karena para pelaksana lebih
mementingkan pencitraan dirinya sebagai manusia sukses, daripada mementingkan
nasib jiwanya di akhirat.
Kedua, filsafat idealisme berpandangan bahwa akhir alam
semesta pada dasarnya adalah nonmaterial. Sementara kebobrokan pelaksanaan UN
mulai dari sistem hingga prakteknya sering dikaitkan dengan lebih menariknya
materi daripada hal-hal yang non material seperti masa depan anak. Materi
seperti uang, harta bermanfaat untuk saat ini, sementara kejujuran, kebaikan
lebih penting untuk masa depan.
Berkaitan dengan itu dari sisi ideal Para guru Indonesia seharusnya
bangkit merevolusi jati dirinya. Mengapa bangkit? Bangkit karena martabat
pendidikan dan martabat guru telah dipulihkan. Keputusan ini mengembalikan guru
pada posisinya sebagai penentu kelulusan siswa. Juga para guru harus bangkit
karena jika selama ini UN yang menjadi sorotan masyarakat maka sejak keputusan
ini diberlakukan gurulah yang akan menjadi pusat sorotan masyarakat. Keputusan
guru akan berperangaruh terhadap masa depan bangsa ini. Jika para guru
meluluskan anak-anak yang belum pantas untuk lulus maka masa depan pendidikan
kita akan semakin terpuruk.
Para
guru juga harus bangkit karena inilah saatnya para guru menunjukkan bahwa
keputusan Mendiknas untuk kembali memuliakan guru merupakan keputusan yang
melemahkan perkembangan kualitas pendidikan di Indonesia. Untuk itu penulis
merekonmendasikan beberapa hal untuk tetap menjaga kualitas pendidikan kita.
Pertama:
lembaga pendidikan dengan jenjang yang lebih tinggi berhak menyeleksi siswa
sesuai visi, misi, dan kekhasannya. Seleksi di Sekolah-Sekolah Negeri hingga
Perguruan Tingi Negeri hendaknya dilakukan secara transparan, dapat
dipertanggungjawabkan kepada publik, tetapi juga menjunjung tinggi otonomi
sekolah. Sekolah berhak membuat instrumen seleksi sesuai keperluannya tetapi
Dinas Pendidikan dan pihak terkait lainnya wajib memantau, mendampingi dan
mengatur hal tersebut, tujuaanya agar sistem seleksi jangan menjadi ajang
mengumpulkan dana sekolah/pribadi.
Kedua,
rekrutmen siswa/mahasiswa di lembaga pendidikan swasta bisa diatur sendiri oleh
lembaga tersebut sesuai dengan kondisi, kebutuhan, visi dan misi sekolahnhya.
Ketiga,
sekolah diberdayakan sebagai agen perubahan masyarakat. Masalah pendidikan
kejujuran, moralitas, daya juang harus dimulai kembali dari lembaga-lembaga
pendidikan negeri dan swasta yang dimiliki bangsa ini. Kepercayaan masyarakat
kepada lembaga pendidikan harus dipulihkan lagi dengan cara menumbuhkan
integritas diri para pendidik, disiplin dalam dunia pendidikan dan tumbuhnya
semangat untuk menjadi agen perubahan.
Kiranya
para guru Indonesia lebih terdorong untuk mengembangkan semangat
profesionalitasnya, guru bangkit pendidikan akan maju, bangsa kita akan menjadi
yang terdepan dan orang akan memandang pendidikan di Indonesia sebagai sistem
pendidikan yang ideal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar