SD Xaverius 1 Jambi di Jl.Putri Pinang Masak No.19, Pasar Jambi merupakan sekolah berkualitas di Kota Jambi. Mengedepankan prestasi dan pengembangan karakter dalam pembelajaran. Setiap anak dibimbing untuk bertumbuh sesuai bakat dan kemampuannya.

Jumat, 10 Juli 2015

Filsafat PEndidikan

 

  FALSAFAH IDEALISME PLATO UNTUK PERBAIKAN SISTEM  UJIAN NASIONAL

Oleh: Romualdus Kaju




Mendiknas memutuskan untuk mendengar kata hati guru-guru Indonesia. Rekan-rekan guru SD yang mengikuti kuliah Magister Pendidikan Dasar di Universitas Jambi, sebagian besar mengusulkan agar UN tidak lagi diberlakukan sebagai penentu kelulusan siswa. Mendiknas akhirnya menyatakan bahwa UN selanjutnya hanya akan dijadikan sarana pemetaaan kualitas pendidikan dan tidak lagi menjadi penentu utama kelulusan siswa di Indonesia. Itu sebabnya, ketika ujian nasional disebutkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan hanya sebagai pemetaan dan bukan penentu kelulusan, sebetulnya merupakan sebuah langkah besar. Kolumnis Indira Permanasari dalam kompas.com 6 Januari 2015 menyebutkan bahwa sekolah dan guru yang dipandang sebagai orang-orang yang paling paham perkembangan belajar anak kembali diberi keleluasaan menentukan kelulusan.
Harapannya, segala potensi murid dan sekolah yang selama ini ”terbelenggu” oleh tagihan ujian nasional disehatkan kembali. Tentu saja ada catatan penting bagi sekolah dan guru, yakni terkait kemampuan mereka mengevaluasi siswa dan paling penting ialah kejujuran. Mendiknas Anies sempat mengingatkan para guru agar jujur dalam melaporkan hasil evaluasi anak didiknya.
Hal inilah yang dikehendaki oleh para guru di Indonesia, sebab kelulusan memang sebaiknya tidak ditentukan oleh hasil kerja seminggu yang penuh kepalsuan tetapi oleh proses pembelajaran dari hari ke hari yang terus dipantau oleh pena penilaian guru.
Keputusan ini berdiri di atas landasan pedagogis bahwa penentu kesuksesan manusia bukan hanya aspek kognitif/pengetahuan saja, melainkan juga turut ditentukan oleh aspek psiko emosional/kematangan pribadi, kematangan sosial/hidup bermasyarakat dan kematangan spiritual/iman kepada Allah. Aspek kognitif bisa dipantau oleh ujian tertulis dan tetapi aspek-aspek lainnya hanya bisa diukur melalui penilaian proses.
Di sisi lain keputusan yang sangat populis ini sebenarnya meninggalkan tantangan yang lebih besar lagi karena sungguh mengandalkan perkembangan kualitas pendidikan Indonesia pada kompetensi dan kesungguhan guru untuk bersikap profesional. Di sisi positif guru yang berkualitas akan berusaha mengoptimalkan proses pembelajaran. Guru melihat proses pemebelajaran sebagai kesempatan untuk mengexplore konteks dan materi pembelajaran agar pengetahuan siswa menjadi luas dan mendalam, kepribadiannya bertumbuh semakin matang, sekaligus berkembang juga kualitas iman dan keyankinan hidup beragamanya. Guru dituntut untuk lebih bertanggungjawab terhadap out put lulusan yang murni, terukur, dan dapat dibuktikan kemampuannya di lapangan.
Salah satu sudut pandang filosofis yang bisa dipakai untuk menyemangati para guru dalam membenahi sistem Ujian Nasional di Indonesia adalah idealisme Plato. Memilih idealisme Plato berarti melalangbuana ke negeri kelahiran filsuf ini yang dikenal juga sebagai masternya filsafat barat kuno, Yunani. Di zaman ini Yunani dihantam resesi ekonomi berat, hemat penulis penyebabnya karena mereka melupakan ide-ide dedengkot-dedengkot filsafatnya, Sokrates, Plato, Aristoteles. Mereka menjadi bangsa yang terlena oleh kejayaan filsafat masa lalu dan keindahan alamnya, lalu malas berpikir, dan lupa bekerja kerasa untuk mengatasi dan mengantisipasi beratnya beban ekonomi dunia saat ini.
Ilmu filsafat Yunani ini telah dicuri oleh pakar-pakar lain dari seantero dunia dan diterapkanlah pemikiran-pemikiran bernas itu untuk kejayaan bangsanya masing-masing. Filsafat Yunani telah menjadi terang bagi berkembangnya ilmu matematika, fisika, kedokteran, sosial, politik, ekonomi, bahkan komputer, sementara pemiliknya tertiarap mengadu minta bantuan mengatasi resesi ekonomi parah. Apa salahnya? Mereka menganggap filsafat sebagai masa lalu, tidak mengembangkannya, tidak memperdalamnya, lalu membiarkan bangsa-bangsa lain menjadi bijaksana karena pemikiran-pemikiran dasar mereka.
Bangsa Indonesiapun tak kurang banyak filsuf profesionalnya. Yang terbesar adalah Ir.Sukarno, ia menjadi filsuf politik aplikatif terbesar dunia karena pemikirannya menjadi fondasi tegaknya bangsa Indonesia ini.Pancasila menjadi hak paten pemikiran Sukarno. Filsuf politik ini dibilang terbesar karena sebuah bangsa telah tumbuh di atas landasan pemikiran yang sama, Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan bahkan untuk saat-saat panjang ke depannya.

Filsuf pendidikan kita yang terbaik masih Ki Hajar Dewantoro, yang sekarang oleh Mendikbud, Anies Baswedan disarankan agar buku-bukunya wajib dipahami oleh insan pendidikan karena memang diakui dan dipakai bahkan oleh negara dengan sistem pendidikan dasar yang sering diakui terbaik di dunia yaitu Filandia.

MODEL FILSAFAT IDEALISME PLATO
A. PLATO DAN ALEGORI GUA
Plato (428-348 SM) adalah filsuf Yunani Kuno yang paling terkenal. Plato adalah murid Sokrates, lewat karya besar seperti Republik dan berbagai dialog gagasannya membentuk fondasi peradaban Barat. Mulai dari bidang pemerintahan, etika, hingga ilmu logika, semua tak lepas dari pengaruh pemikirannya.
Layaknya filsuf Yunani sezamannya, Plato sering menggunakan analogi dan ilustrasi untuk menjelaskan ide-idenya. Tujuannya tentu supaya orang lebih mudah memahami maksudnya. Lewat analogi dan ilustrasi inilah orang-orang awam — yang tidak terlatih ilmu filsafat — dapat membayangkan argumen Plato.
Nah, salah satu ilustrasi Plato yang paling terkenal disebut sebagai “Perumpamaan Gua” (Allegory of The Cave). Lewat ilustrasi ini Plato berusaha memperkenalkan konsep seperti realitas dan transendensi kepada pembaca. Meskipun demikian Plato tidak menyampaikan ide ini secara langsung — ia menjelaskannya sebagai cerita dari mulut gurunya, Sokrates, yang sedang mengobrol bersama Glaucon.
Perumpamaan Gua versi Plato yang sebenarnya agak panjang; melibatkan dialog yang cukup intens. Oleh karena itu, untuk memudahkan pembahasan, berikut ini saya tuliskan rangkumannya dalam Bahasa Indonesia.
Pertama-tama kita bayangkan sekelompok orang yang ditawan sejak lahir. Orang-orang ini sejak kecil dirantai dalam gua. Tangan, kepala, dan kaki mereka diikat secara ketat, sedemikian hingga seumur hidup cuma bisa menatap dinding di depan mereka. Di belakang mereka terdapat api unggun besar. Apabila ada orang atau binatang lewat, maka bayangannya akan terpantul ke dinding di depan para tawanan. Setiap kali orang atau binatang itu bersuara, suaranya akan bergema sampai ke telinga para tawanan. 
Karena seumur hidup cuma melihat pantulan di dinding, para tawanan mengira bayangan dan gema itu sebagai “kenyataan sebenarnya”. Mereka tidak menyadari bahwa semua itu sekadar pantulan dari benda di belakang mereka. Poin utama Plato sampai di sini adalah bahwa manusia menyangka kenyataan berdasarkan apa yang mereka persepsi. Dalam kasus ini, tawanan yang seumur hidup menatap dinding akan terdorong menganggap bayang-bayang — dan suara gema — sebagai sebentuk realitas.
Melanjutkan ide di atas, Plato mengetengahkan:
Akan tetapi, bagaimana kalau kita lepaskan satu orang dari tawanan tersebut? Apabila ia kita seret keluar gua maka ia akan merasa kesakitan. Badannya yang seumur hidup dirantai tak biasa bergerak. Matanya akan perih menatap cahaya terang dunia luar. Orang ini akan mengalami kesakitan yang luar biasa.
Meskipun begitu, setelah beberapa waktu, dia akan beradaptasi. Matanya menyesuaikan diri; demikian pula dengan badannya. Dia menyadari bahwa ada kenyataan yang melampaui bayangan dalam gua.
Dalam sekejap pengetahuannya bertambah — ia tidak lagi menjadi “orang gua” yang naif.
Ketika melihat kembali ke dalam gua, orang ini akan menyadari bahwa kenyataan yang dipercaya selama ini salah. Semua yang ia lihat dan dengar itu bukan kenyataan sebenarnya — melainkan, sekadar refleksi dari kenyataan yang lebih tinggi.
Bagian terakhir, sebagai penutup:
Seandainya orang ini — yang sudah pernah bebas — kembali ke dalam gua menemui teman-temannya. Apa yang akan terjadi?
Ada kemungkinan ia akan dikucilkan karena pandangannya tentang kenyataan berbeda dengan mereka. Ada kemungkinan bahwa — apabila hendak membebaskan teman-temannya — ia akan dibenci karena menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Ada juga kemungkinan bahwa ia akan dipandang rendah. Karena matanya sudah beradaptasi dengan dunia luar, ia tidak lagi pandai mengamati bayangan di dinding.
B. Filsafat  Idealisme Plato
Alegori gua di atas akan menjadi ilustrasi menarik bagi filsafat idealisme. Plato menyamakan pandangan manusia tentang realitas itu sama dengan manusia gua yang menyangka apa yang dilihatnya dalam gua sebagai kenyataan satu-satunya.
Idealisme merupakan sistem filsafat yang telah dikembangkan oleh para filsuf di Barat maupun di Timur. Di Timur, idealisme berasal dari India Kuno, dan di Barat idealisme berasal dari Plato, yaitu filsuf Yunani yang hidup pada tahun 427-347 sebelum Masehi. Dalam pengertian filsafati,idealisme adalah sistem filsafat yang menekankan pentingnya keunggulan pikiran (mind), roh (soul) atau jiwa (spirit) dari pada hal-hal yang bersifat kebendaan atau material. Pandangan-pandangan umum yang disepakati oleh para filsuf idealisme, yaitu:
      Jiwa (soul) manusia adalah unsur yang paling penting dalam hidup.
      Hakikat akhir alam semesta pada dasarnya adalah nonmaterial.
Filsafat idealisme secara umum disebut sebagai filsafat abad 19. namun sebenarnya konsep-konsep idealisme sudah ada sejak abad 4 masehi, yaitu dalam ajaran Plato. Plato memercayai bahwa segala sesuatu yang dapat diinderai adalah kenampakan semata. Realitas yang sesungguhnya adalah ide-ide, atau bentuk-bentuk asal dari kenampakan itu. Ide-ide itu merupakan dunia “universal abadi” yang tidak berubah. Apa yang nampak hanyalah refleksi atau bayangan dari konsep-konsep yang ada dalam dunia “universal abadi,” maka selalu berubah. Pandangan ini dimulai dari perenungan akan nilai-nilai dari kenampakan yang ada di dunia ini. Plato menyimpulkan bahwa ada nilai dibalik kenampakkan itu, maka tentu yang memberi nilai jauh lebih penting dari pada kenampakkan itu sendiri. Dan ternyata yang memberi nilai atas kenampakkan itu adalah sesuatu yang metafisik, yang tidak nampak, tetapi terus eksis, yaitu ide-ide.

UJIAN NASIONAL IDEAL
Banyak pihak mengkritik pelaksanaan UN selama ini sebagai sesuatu yang sia-sia, tidak ideal dan hanya sebagai proyek yang menghabiskan anggaran negara. Dan ketika pemerintah berani merombak dasar pemikiran dan tujuan dilaksanakannya UN maka bandul problematika kembali bergesar yaitu dari nilai UN sebagai tolok ukur kelulusan ke hasil UN sebagai pertunjukkan gengsi sekolah dan gengsi daerah. Mengapa demikian? Banyak pihak masih terlanjur mementingkan citra atau persepsi publik tentang dirinya daripada dia apa adanya. Nilai UN yang tinggi akan menunjukkan kesuksesan guru, kesuksesan sekolah, pengawas dan pejabat pemerintah di bidang pendidikan pada umumnya.
Di sinilah peran tepat filsafat pendidikan idealisme dapat diterapkan yaitu:
Pertama, filsafat idealisme khusunya Plato menyatakan jiwa (soul) manusia adalah unsur yang paling penting dalam hidup. Ketidakberesan pelaksanaan UN disebabkan karena para pelaksana lebih mementingkan pencitraan dirinya sebagai manusia sukses, daripada mementingkan nasib jiwanya di akhirat.
Kedua, filsafat idealisme berpandangan bahwa akhir alam semesta pada dasarnya adalah nonmaterial. Sementara kebobrokan pelaksanaan UN mulai dari sistem hingga prakteknya sering dikaitkan dengan lebih menariknya materi daripada hal-hal yang non material seperti masa depan anak. Materi seperti uang, harta bermanfaat untuk saat ini, sementara kejujuran, kebaikan lebih penting untuk masa depan.
Berkaitan dengan itu dari sisi ideal Para guru Indonesia seharusnya bangkit merevolusi jati dirinya. Mengapa bangkit? Bangkit karena martabat pendidikan dan martabat guru telah dipulihkan. Keputusan ini mengembalikan guru pada posisinya sebagai penentu kelulusan siswa. Juga para guru harus bangkit karena jika selama ini UN yang menjadi sorotan masyarakat maka sejak keputusan ini diberlakukan gurulah yang akan menjadi pusat sorotan masyarakat. Keputusan guru akan berperangaruh terhadap masa depan bangsa ini. Jika para guru meluluskan anak-anak yang belum pantas untuk lulus maka masa depan pendidikan kita akan semakin terpuruk.
Para guru juga harus bangkit karena inilah saatnya para guru menunjukkan bahwa keputusan Mendiknas untuk kembali memuliakan guru merupakan keputusan yang melemahkan perkembangan kualitas pendidikan di Indonesia. Untuk itu penulis merekonmendasikan beberapa hal untuk tetap menjaga kualitas pendidikan kita.
Pertama: lembaga pendidikan dengan jenjang yang lebih tinggi berhak menyeleksi siswa sesuai visi, misi, dan kekhasannya. Seleksi di Sekolah-Sekolah Negeri hingga Perguruan Tingi Negeri hendaknya dilakukan secara transparan, dapat dipertanggungjawabkan kepada publik, tetapi juga menjunjung tinggi otonomi sekolah. Sekolah berhak membuat instrumen seleksi sesuai keperluannya tetapi Dinas Pendidikan dan pihak terkait lainnya wajib memantau, mendampingi dan mengatur hal tersebut, tujuaanya agar sistem seleksi jangan menjadi ajang mengumpulkan dana sekolah/pribadi.
Kedua, rekrutmen siswa/mahasiswa di lembaga pendidikan swasta bisa diatur sendiri oleh lembaga tersebut sesuai dengan kondisi, kebutuhan, visi dan misi sekolahnhya.
Ketiga, sekolah diberdayakan sebagai agen perubahan masyarakat. Masalah pendidikan kejujuran, moralitas, daya juang harus dimulai kembali dari lembaga-lembaga pendidikan negeri dan swasta yang dimiliki bangsa ini. Kepercayaan masyarakat kepada lembaga pendidikan harus dipulihkan lagi dengan cara menumbuhkan integritas diri para pendidik, disiplin dalam dunia pendidikan dan tumbuhnya semangat untuk menjadi agen perubahan.
Kiranya para guru Indonesia lebih terdorong untuk mengembangkan semangat profesionalitasnya, guru bangkit pendidikan akan maju, bangsa kita akan menjadi yang terdepan dan orang akan memandang pendidikan di Indonesia sebagai sistem pendidikan yang ideal.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar