SD Xaverius 1 Jambi di Jl.Putri Pinang Masak No.19, Pasar Jambi merupakan sekolah berkualitas di Kota Jambi. Mengedepankan prestasi dan pengembangan karakter dalam pembelajaran. Setiap anak dibimbing untuk bertumbuh sesuai bakat dan kemampuannya.

Sabtu, 11 Juli 2015

PENGEMBANGAN KARAKTER ANAK, BELAJAR DARI KEPOMPONG


             PENGEMBANGAN KARAKTER ANAK, BELAJAR DARI KEPOMPONG





Cerita tentang orang salah sangka yang mengelurkan kupu-kupu kecil dari kepompongnya  bisa menjadi ilustrasi bagi para pendidik karakter, baik orang tua maupun guru. Konon seorang anak memperhatikan sebuah kepompong. Di dalamnya ada kupu-kupu yang sedang berjuang untuk melepaskan diri dari dalam kepompong. Kelihatannya begitu sulitnya, kemudian ia tersebut merasa kasihan pada kupu-kupu itu dan berpikir cara untuk membantu si kupu-kupu agar bisa keluar dengan mudah.

Akhirnya si anak tadi menemukan ide dan segera mengambil gunting dan membantu memotong kepompong agar kupu-kupu bisa segera keluar dr sana. Alangkah senang dan leganya.Tetapi apa yang terjadi? Kupu-kupu memang bisa keluar dari sana. Tetapi kupu-kupu tersebut tidak dapat terbang, hanya dapat merayap. Apa sebabnya?

Ternyata bagi seekor kupu-kupu yang sedang berjuang dari kepompongnya tersebut, yang mana pada saat dia mengerahkan seluruh tenaganya, ada suatu cairan didalam tubuhnya yang mengalir dengan kuat ke seluruh tubuhnya yang membuat sayapnya bisa mengembang sehingga ia dapat terbang, tetapi karena tidak ada lagi perjuangan tersebut maka sayapnya tidak dapat mengembang sehingga jadilah ia seekor kupu-kupu yang hanya dapat merayap.

Itulah potret singkat tentang pembentukan karakter, akan terasa jelas dengan memahami contoh kupu-kupu tersebut. Seringkali orangtua dan guru, lupa akan hal ini. Bisa saja mereka tidak mau repot, atau kasihan pada anak. Kadangkala niat baik kita belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik. Sama seperti pada saat kita mengajar anak kita. Kadangkala kita sering membantu mereka karena kasihan atau rasa sayang, tapi sebenarnya malah membuat mereka tidak mandiri. Membuat potensi dalam dirinya tidak berkembang. Memandukan kreativitasnya, karena kita tidak tega melihat mereka mengalami kesulitan, yang sebenarnya jika mereka berhasil melewatinya justru menjadi kuat dan berkarakter.

Sama halnya bagi pembentukan karakter seorang anak, memang butuh waktu dan komitmen dari orangtua dan sekolah atau guru untuk mendidik anak menjadi pribadi yang berkarakter. Butuh upaya, waktu dan cinta dari lingkungan yang merupakan tempat dia bertumbuh, cinta disini jangan disalah artikan memanjakan. Jika kita taat dengan proses
ini maka dampaknya bukan ke anak kita, kepada kitapun berdampak positif, paling tidakkarakter sabar, toleransi, mampu memahami masalah dari sudut pandang yang berbeda, disiplin dan memiliki integritas terpancar di diri kita sebagai orangtua ataupun guru. Hebatnya, proses ini mengerjakan pekerjaan baik bagi orangtua, guru dan anak jika kita komitmen pada proses pembentukan karakter. Segala sesuatu butuh proses, mau jadi jelek pun butuh proses. Anak yang nakal itu juga anak yang disiplin.Dia disiplin untuk bersikap nakal. Dia tidak mau mandi tepat waktu, bangun pagi selalu telat, selalukonsisten untuk tidak mengerjakan tugas dan wajib tidak menggunakan seragam lengkap.

Karakter sebuahbangsa merupakan aspek penting yang mempengaruhi perkembangan sosial-ekonomi. Kualitas karakter yang tinggi dari masyarakat tentunya akan menumbuhkan keinginan yang kuat untuk meningkatkan kualitas bangsa.
Pengembangan karakter yang terbaik adalah jika dimulai sejak usia dini. Sebuah ungkapan yang dipercaya secara luas menyatakan “ jika kita gagal menjadi orang baik diusia dini, di usia dewasa kita akan menjadi orang yang bermasalah atau orang jahat”.

2 komentar:

  1. Makna kemerdekaan yang sebenarnya jika kita sudah bebas melakukan sesuatu yang kita inginkan tanpa mengorbankan kemerdekaan orang lain

    BalasHapus
  2. Falsafah Jawa mengatakan mendidik anak itu jangan
    " welas tanpo alis" artinya menyayangi anak tanpa ada batas yang jelas, tanpa koreksi, tanpa ada bimbingan menuju kebaikan, alhasil anak menjadi tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar. Apakah para koruptor itu juga hasil didikan welas tanpo alis ya?

    BalasHapus